Judul: HourglassJumat, 30 Desember 2011
Hourglass
Judul: HourglassSelasa, 29 November 2011
The Rosary Murderer
Judul: The Rosary Murderer (Original: The Rosary Girls)Rabu, 23 November 2011
Phoenix dalam Mahkota Negeri Azura

Judul : Phoenix dalam Mahkota Negeri Azura
Pengarang : A. M. K. Narongkrang
Penerbit : VoilaBooks (PT. Mizan Publika)
Tahun Terbit : 2005
Tebal Buku : 531 halaman
Harga Buku : Rp 54.000,00
Berawal dari tugas resensi novel yang dikasih guru bahasa Indonesia, saya baca buku ini. Berhubung gurunya ga ngebolehin buat ngerensi novel terjemahan (harus penulis Indonesia), jadi saya nyari novel genre yang saya sukai (fantasi) tapi penulisnya dari Indonesia di taman bacaan dan buku ini adalah satu dari sedikit banget novel bergenre fantasi karya penulis Indonesia. Berhubung (lagi) resensi awalnya buat tugas, jadi bahasanya buat resensi yg ini lebih formal. but please, enjoy :)
Novel fiksi fantasi yang beredar di Indonesia hingga saat ini hampir seluruhnya merupakan novel terjemahan. Sedikit sekali novel fantasi karya penulis Indonesia yang ditemukan di pasaran. Salah satunya adalah Phoenix dalam Mahkota Negeri Azura. A. M. K. Narongkrang, sang penulis berencana untuk menjadikan Phoenix dalam Mahkota Negeri Azura sebagai novel pertama dalam pentalogi Phoenix.
Jika dibandingkan dengan novel fantasi lainnya novel ini masih tergolong biasa saja, meskipun imajinasi penulis sudah bagus. Latar sosial kehidupan di Indonesia yang dalam dunia fantasi di buku ini memberikan rasa tersendiri ketika kita membacanya.Tema novel ini sudah cukup lumrah, yaitu seseorang yang sebetulnya merupakan orang besar dan penting, namun jati dirinya dirahasiakan oleh pihak-pihak tertentu hingga akhir cerita. Alur ceritanya agak membosankan karena isi novel terkesan bertele-tele dan tidak fokus.
Phoenix merupakan anak dari Alba Ragoes, pengusaha kayu di daerah terpencil Negeri Mayorats. Ibunya Wetty se-lalu bersikap jahat terhadap Phoenix, karena ia adalah anak yang dipungut oleh Alba Ragoes entah di mana. Alba dan Wetty memiliki seorang anak kandung, Shahasika. Wetty, perempuan yang selalu marah dan mengeluh, lebih menyayangi Shahasika.
Masalah dimulai saat Alba sekeluarga beserta teman Shahasika dan Phoenix—Eaton dan si kembar, Laryna dan Shalley—pergi ke rumah Madam Havilah, nenek Phoenix dan Shahasika di Negeri Basikal. Mereka semua tengah berada di rumah Madam Havilah ketika mereka mendengar bahwa dusun tempat mereka tinggal mengalami kebakaran hebat dan Alba serta Wetty menjadi tersangka dalam kasus kebakaran tersebut.
Kehidupan Phoenix dan Shahasika menjadi tak menentu. Mereka berpindah-pindah tempat dan mengalami berbagai petualangan bersama Eaton, Laryna dan Shalley yang juga mengalami hal yang sama (orang tua mereka telah dituduh sebagai tersangka kasus kebakaran hebat dusun mereka).
“Yang Mahakuasa itu adalah Tuhan...”
“Tuhan? Siapa dia?” sela Eaton dengan kelopak mata semakin menyipit.
‘Siapakah Tuhan?’ sebetulnya merupakan amanat pokok dalam novel ini. Amanat tersebut dimunculkan secara tersurat melalui nasihat yang disampaikan oleh Alba Ragoes, Bhagala dan Prof. Jahmur pada Phoenix dkk. Pesan yang ingin disampaikan penulis memang betul-betul tersampaikan. Namun, pemikiran dan pengalaman tentang keagamaan yang ingin penulis selipkan peda novel ini nyatanya terlalu banyak, sehingga membuat tokoh-tokoh terkesan sok tahu.
Detail kehidupan pada latar novel—Dunia Maya—sangat baik dan termasuk segar. Penulis mengawinkan budaya Indonesia dengan imajinasinya, sehingga terciptalah beberapa benda unik yang terdapat pada novel. Mulai dari transportasi, yaitu angkot cempana. Penulis juga mengganti barang-barang modern dengan burung, diantanranya burung pengirim pesan, penyuara waktu, penyiar kabar dan kendaraan burung. Nama makanan pun diambil dari nama hantu-hantu di Indonesia, seperti susu manis kuntilanak, es pocong dan daging bakar genderuwo.
Sayangnya, pendeskripsian benda-benda yang sangat baik tidak disertai dengan pendeskripsian tokohnya. Penokohan Phoenix semu dan kurang kuat. Phoenix, si tokoh utama, digambar-kan sebagai anak istimewa pada awal cerita, namun pada pertengahan cerita, terutama saat Phoenix dkk. bepergian dari satu tempat ke tempat lain, Phoenix menjadi sama seperti tokoh lain-nya yaitu Shahasika, Eaton, Laryna dan Shalley. Penokohan yang buruk ini akhirnya memengaruhi akhir cerita yaitu saat Phoenix secara tiba-tiba diangkat menjadi pangeran Negeri Azura. Efek terhormat, pahlawan dan kehebatan Phoenix yang ingin ditampilkan pada akhir cerita menjadi tidak terasa karena des-kripsi dan pemilihan kata-kata yang kurang bagus.
Bagian akhir cerita terasa terburu-buru. Masalah-masalah kecil yang terdapat pada novel mengalihkan masalah utama. Masalah utama menjadi terlupakan. Melalui ulasan ini, terlihat bahwa penulis ingin menonjolkan terlalu banyak hal. Ketika semua hal telah dituangkan ke dalam cerita, seluruh hal tersebut justru menjadi semu. Bahasanya cukup ringan. Sayangnya, beberapa kesa-lahan cetak masih ditemukan, salah satunya yaitu tidak ada tanda kutip pada dialog antar tokoh.
Novel Phoenix dalam Mahkota Negeri Azura cocok untuk anak-anak dan pembaca yang menyukai fantasi petualangan. Dunia Phoenix yang dibuat menarik dan petualangan Phoenix dkk. dari awal hingga akhir cerita membuat novel ini cukup layak untuk dibaca.
Jumat, 08 Juli 2011
Evernight
Penerbit: Bhuana Ilmu PopulerSabtu, 02 Juli 2011
Uglies
Pengarang : Scott Westerfeld
Tahun : 2010
Tebal : 302 Halaman
Tampaknya mulai sekarang saya mencoba untuk berbagi resensi novel, terutama novel fantasi terjemahan. So, this is it.
Senin, 04 Januari 2010
The Tomb of Hercules

kanan: cover versi internasional; kiri: cover versi IndonesiaDari penulis dari THE HUNT FOR ATLANTIS, Andy McDermott, The Tomb of Hercules yang merupakan novel kedua dari The Hunt for Atlantis ini memang tetap menyajikan beberapa adegan sadis.
Pejuang Legendaris
Harta Tak Ternilai
Ketika Nina dan Eddie Chase, pengawal pribadi mantan anggota SAS yang kini menjadi kekasihnya, mulai pencarian, terkuaklah fakta bahwa banyak pihak yang juga ingin menemukan makam tersebut dan kekayaan tak ternilai yang tersimpan di dalamnya. Namun, perhatian Chase teralihkan oleh kemunculan kembali seraut wajah dari masa lalunya. Dan, pencarian mereka pun tak lagi sesederhana yang diperkirakan.
Musuh Mematikan
Nina dan Chase mengendus jejak korupsi dan konspirasi saat mereka berusaha keras menemukan tempat peristirahatan terakhir sang pahlawan mitologi tersebut. Mulai dari Swiss sampai Shanghai, Botswana sampai London. Perjalanan mereka berubah menjadi pertarungan melawan waktu untuk menemukan Makam Hercules sebelum jatuh ke tangan manusia-manusia paling keji di dunia....
Sabtu, 05 Desember 2009
The Hunt for Atlantis
Penerbit: Gagas Media Sepuluh tahun setelah kematian orangtuanya, Nina mengajukan proposal tentang pendanaan pencarian Atlantis pada suatu departemen universitas, namun tiga orang yang mewakili departemen itu menolak proposal Nina, bahkan kepala departemen, Jonathan Philby, teman dekat orangtua Nina.
Karena suatu kejadian, Nina akhirnya bertemu dengan pegawal pribadinya, Eddie Chase, yang disewa oleh Kristian Frost, miliarder yang memimpin Frost Foundation. Lalu Nina bertemu dengan Kristian Frost di Norwegia. Frost akhirnya bersedia mendanai Nina dan dimulailah ekspedisi pencarian Atlantis Nina yang dibantu oleh Chase dan putri Kristian Frost, Kari Frost.
Perburuan dimulai dari Irak. Kari membeli orichalcum, lempeng kemerahan peningggalan Atlantis, namun ternyata Nina, Chase dan Kari dijebak sehingga terjadi kontak senjata antara kubu Frost dengan kubu Qobras, rival yang mencegah mereka menemukan Atlantis. Setelah akhirnya berhasil lolos dari Qobras, mereka pergi ke
Sebelum tim ekspedisi Frost sampai ke tujuan di
Novel ini ditulis dengan sudut pandang orang ketiga sehingga kita dapat mengerti seluruh isi cerita. Novel ini juga memuat data-data tentang Atlantis yang ada, jadi sangat cocok untuk orang yang tertarik pada sejarah, fantasi dan arkeologi.
Dengan membaca novel kita kita seakan dibawa berkeliling tempat-tempat di dunia. Emosi dan masalah yang memuncak ditulis dengan sangat menarik. Terdapat banyak kejadian tak terduga yang ada di akhir cerita.
Suasana tegang pada novel ini dapat terasa karena penulis memilih kata-kata yang bagus. Cerita ini ditulis langsung pada intinya sehingga pembaca tidak akan merasa jenuh. Covernya pun menggambarkan kondisi Atlantis yang membuat pembaca dapat membayangkan kota yang hilang tersebut.
Sayangnya, pada bagian-bagian tertentu, agak susah membayangkan beberapa bentuk seperti bentuk-bentuk dari transportasi yang memang jarang kita lihat pada kehidupan sehari-hari.
Novel ini sebaiknya dibaca oleh remaja dan dewasa, karena pada beberapa bagian, terdapat kontak senjata dan adegan-adegan mengerikan saat pertempuran antara Frost dan Qobras. Bagi yang menyukai cerita fiksi dan mitos, novel ini sangat direkomendasikan.