Senin, 06 Februari 2012

Olivia Ong - Make It Mutual

A quiet moment making my footprints on the sand.
A sweet feeling comes surrounding me.
It's delirious.
Now that's a sugar rush.
My heart is beating oh so fast,
And I dun wanna fall too deep but I want to make it last

There's no need to rush.
We can take our time. Let it go the natural way.
We begin as friends?
And who knows what ?
Where this could be taking me

In this nice cool breeze.
Yes I am all at ease.
When I gush.
And this sweet feeling comes to me.
Can't deny, can't lie, can't really face the truth.
And I wonder if you're feeling the same way too

You know what I would like?
I'd like to get to know you more.
Make that mutual.
Boy, you know you wanna know me too

This is how you make me feel.
When you're here, I feel your vibe,
And I hope I don't fall into deep too fast

You're not the type,
Who'll rush into things.
And let it slip away. Yeah,
I like your type.
Caught up in this ride.
It's kinda silly but I'll say

In this nice cool breeze,
Yes I am all at ease.
When I gush.
And this sweet feeling comes to me.
Can't deny, can't lie, can't really face the truth.
And I wonder if you're feeling the same way too

Jumat, 30 Desember 2011

Hourglass

Judul: Hourglass
Pengarang: Claudia Gray
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Tahun: 2011
Novel ke-3 dari seri Evernight (4 novel)
Cover Bahasa Indonesia







"Kau telah memutar jam pasirnya." Perkataan ibu Bianca saat Bianca masih tinggal di Evernight tersebut adalah inti cerita pada novel ini. Sejak meminum darah segar untuk pertama kalinya, Bianca seperti mengalami masa transisi. Ia memang manusia setengah vampir, namun itu tak akan berlangsung lama.

Setelah peristiwa pembakaran Evernight oleh Salib Hitam, Bianca kabur dari orang tuanya dan menjadi bagian dari Salib Hitam. Raquel, teman sekamar Bianca juga ikut bergabung. Hari-hari yang berat terus dilalui Bianca dengan bantuan Lucas. Ia belajar cara membunuh vampir, kelemahan vampir dan bertarung, walaupun dirinya sendiri merupakan manusia setengah vampir. Tidak ada yang mengetahui jati dirinya kecuali Lucas. Dunianya menjadi sangat berbeda ketika ia bergabung dengan Salib Hitam, dimana setiap hari ia harus melakukan pekerjaan berat.

Menetap bersama kelompok Salib Hitam bukanlah hal yang diinginkan Lucas dan Bianca, namun mereka tidak memiliki pilihan. Untuk dapat hidup hanya berdua mereka membutuhkan uang yang cukup dan Lucas masih mengumpulkannya. Masalah datang ketika Mrs. Bethany, kepala sekolah Evernight berhasil melacak markas Salib Hitam di New York. Vampir-vampir pun bersatu untuk membalaskan dendam mereka atas pembakaran Evernight dengan menghancurkan markas Salib Hitam.

Di tengah perubahan-perubahan aneh pada tubuh Bianca, berbagai kesulitan dan kejutan tidak henti-hentinya datang. Hingga jati diri Bianca dan Lucas--yang juga memiliki kekuatan dan kelemahan vampir-- diketahui oleh Raquel dan Dana, teman baik Lucas. Anggota Salib Hitam yang lain pun akhirnya mengetahui hal itu.



Overall feel dan alur cerita pada novel ini pasang surut. Ada bagian dimana kita merasa bosan membacanya, namun di bagian lain, banyaknya kejutan membuat kita penasaran dan terus membacanya sampai selesai. Konflik berbelit baru ditonjolkan pada bagian tengah hingga akhir buku.

Seperti biasa, pengarang sukses membuat cerita biasa yaitu semacam kawin lari, menjadi bacaan yang menarik. Jika dibandingkan dengan stargazer (novel sebelumnya), hourglass menurut saya lebih menegangkan dan tidak terduga. Semoga reviewnya membantu :)


Selasa, 29 November 2011

The Rosary Murderer

Judul: The Rosary Murderer (Original: The Rosary Girls)
Pengarang: Richard Montanari
Penerbit: Dastan Books
Tahun terbit: 2007
Tebal buku: 604 halaman
Cover Bahasa Indonesia






Udah ngerasa serem dengan ngeliat covernya? Yak, mencoba membaca genre lain selain fantasi, The Rosary Murderer akhirnya saya pilih dan beneran ini novel keren banget! Dari semua novel yang pernah aku baca (termasuk fantasi)

Novel international bestseller ini bergenre thriller dan berlatar Philadelphia, AS. Jessica Balzano adalah seorang detekrif polisi yang baru saja pindah ke unit pembuhunan. Hanya beberapa jam setelah kedatangannya ke unit pembunuhan tersebut, ia telah mendapat tugas pertamanya. Dengan bantuan mitranya, Kevin Bryne mereka memulai penyelidikan atas kasus pembunuhan tersebut.

Seorang gadis ditemukan tewas di salah satu rumah tak terurus di daerah kumuh Phili. Lehernya patah. Tangan gadis tersebut dalam keadan berdoa dan disatukan dengan mur/baut yang menembus telapak tangannya. Terdapat pula rosario pada tangan korban. Pada dahinya terdapat tanda salib. Korban diketahui bersekolah di sekolah Katolik dari baju seragam yang dipakainya.

Tak ada satu sidik jari pun pada korban dan di TKP. Petunjuk yang sangat minim menyulitkan Jessica dan Kevin untuk mencari pembunuh keji ini. Keesokan harinya, seorang gadis yang berasal dari sekolah Katolik juga ditemukan tewas dengan cara yang sama. Korban lain ditemukan beberapa hari setelah korban pertama ditemukan. Pada pembunuhan yang telah berpola ini, terdapat hal yang janggal. Korban-korban seperti dibunuh untuk satu ritual religius bagi si pembunuh.

Di tengah kelelahan badan dan pikiran. Antara masalah pribadi yang berkecamuk dan masalah pekerjaan yang mengalami kebuntuan dan keputusasaan, Jessica dan Kevin harus terus berjuang dan mencari pembunuh rosario ini. Tak jarang, mereka melakukan kesalahan terhadap dugaan mereka.

Seperti novel-novel tentang pembunuhan lainnya, kita berkali-kali dibuat yakin tentang tersangka pada kasus tersebut--dan berkali-kali keliru pula. Novel ini sangat memikat pembaca. Bahasanya membawa pembaca pada emosi-emosi kompleks yang dialami detektif-detektif dan si pembunuh itu sendiri. Penulis (dan penerjemah) sukses membuat pembaca merasakan keputusasaan para detektif juga merasakan perburuan yang berpacu dengan waktu--sebelum lebih banyak lagi korban yang jatuh. Bagian akhir cerita yang dibuat menegangkan memang terasa sangat menegangkan. Two thumbs up for rosary murderer

Rabu, 23 November 2011

Phoenix dalam Mahkota Negeri Azura

Judul : Phoenix dalam Mahkota Negeri Azura

Pengarang : A. M. K. Narongkrang

Penerbit : VoilaBooks (PT. Mizan Publika)

Tahun Terbit : 2005

Tebal Buku : 531 halaman

Harga Buku : Rp 54.000,00



Berawal dari tugas resensi novel yang dikasih guru bahasa Indonesia, saya baca buku ini. Berhubung gurunya ga ngebolehin buat ngerensi novel terjemahan (harus penulis Indonesia), jadi saya nyari novel genre yang saya sukai (fantasi) tapi penulisnya dari Indonesia di taman bacaan dan buku ini adalah satu dari sedikit banget novel bergenre fantasi karya penulis Indonesia. Berhubung (lagi) resensi awalnya buat tugas, jadi bahasanya buat resensi yg ini lebih formal. but please, enjoy :)


Novel fiksi fantasi yang beredar di Indonesia hingga saat ini hampir seluruhnya merupakan novel terjemahan. Sedikit sekali novel fantasi karya penulis Indonesia yang ditemukan di pasaran. Salah satunya adalah Phoenix dalam Mahkota Negeri Azura. A. M. K. Narongkrang, sang penulis berencana untuk menjadikan Phoenix dalam Mahkota Negeri Azura sebagai novel pertama dalam pentalogi Phoenix.

Jika dibandingkan dengan novel fantasi lainnya novel ini masih tergolong biasa saja, meskipun imajinasi penulis sudah bagus. Latar sosial kehidupan di Indonesia yang dalam dunia fantasi di buku ini memberikan rasa tersendiri ketika kita membacanya.Tema novel ini sudah cukup lumrah, yaitu seseorang yang sebetulnya merupakan orang besar dan penting, namun jati dirinya dirahasiakan oleh pihak-pihak tertentu hingga akhir cerita. Alur ceritanya agak membosankan karena isi novel terkesan bertele-tele dan tidak fokus.

Phoenix merupakan anak dari Alba Ragoes, pengusaha kayu di daerah terpencil Negeri Mayorats. Ibunya Wetty se-lalu bersikap jahat terhadap Phoenix, karena ia adalah anak yang dipungut oleh Alba Ragoes entah di mana. Alba dan Wetty memiliki seorang anak kandung, Shahasika. Wetty, perempuan yang selalu marah dan mengeluh, lebih menyayangi Shahasika.

Masalah dimulai saat Alba sekeluarga beserta teman Shahasika dan Phoenix—Eaton dan si kembar, Laryna dan Shalley—pergi ke rumah Madam Havilah, nenek Phoenix dan Shahasika di Negeri Basikal. Mereka semua tengah berada di rumah Madam Havilah ketika mereka mendengar bahwa dusun tempat mereka tinggal mengalami kebakaran hebat dan Alba serta Wetty menjadi tersangka dalam kasus kebakaran tersebut.

Kehidupan Phoenix dan Shahasika menjadi tak menentu. Mereka berpindah-pindah tempat dan mengalami berbagai petualangan bersama Eaton, Laryna dan Shalley yang juga mengalami hal yang sama (orang tua mereka telah dituduh sebagai tersangka kasus kebakaran hebat dusun mereka).


“Yang Mahakuasa itu adalah Tuhan...”

“Tuhan? Siapa dia?” sela Eaton dengan kelopak mata semakin menyipit.

‘Siapakah Tuhan?’ sebetulnya merupakan amanat pokok dalam novel ini. Amanat tersebut dimunculkan secara tersurat melalui nasihat yang disampaikan oleh Alba Ragoes, Bhagala dan Prof. Jahmur pada Phoenix dkk. Pesan yang ingin disampaikan penulis memang betul-betul tersampaikan. Namun, pemikiran dan pengalaman tentang keagamaan yang ingin penulis selipkan peda novel ini nyatanya terlalu banyak, sehingga membuat tokoh-tokoh terkesan sok tahu.

Detail kehidupan pada latar novel—Dunia Maya—sangat baik dan termasuk segar. Penulis mengawinkan budaya Indonesia dengan imajinasinya, sehingga terciptalah beberapa benda unik yang terdapat pada novel. Mulai dari transportasi, yaitu angkot cempana. Penulis juga mengganti barang-barang modern dengan burung, diantanranya burung pengirim pesan, penyuara waktu, penyiar kabar dan kendaraan burung. Nama makanan pun diambil dari nama hantu-hantu di Indonesia, seperti susu manis kuntilanak, es pocong dan daging bakar genderuwo.

Sayangnya, pendeskripsian benda-benda yang sangat baik tidak disertai dengan pendeskripsian tokohnya. Penokohan Phoenix semu dan kurang kuat. Phoenix, si tokoh utama, digambar-kan sebagai anak istimewa pada awal cerita, namun pada pertengahan cerita, terutama saat Phoenix dkk. bepergian dari satu tempat ke tempat lain, Phoenix menjadi sama seperti tokoh lain-nya yaitu Shahasika, Eaton, Laryna dan Shalley. Penokohan yang buruk ini akhirnya memengaruhi akhir cerita yaitu saat Phoenix secara tiba-tiba diangkat menjadi pangeran Negeri Azura. Efek terhormat, pahlawan dan kehebatan Phoenix yang ingin ditampilkan pada akhir cerita menjadi tidak terasa karena des-kripsi dan pemilihan kata-kata yang kurang bagus.

Bagian akhir cerita terasa terburu-buru. Masalah-masalah kecil yang terdapat pada novel mengalihkan masalah utama. Masalah utama menjadi terlupakan. Melalui ulasan ini, terlihat bahwa penulis ingin menonjolkan terlalu banyak hal. Ketika semua hal telah dituangkan ke dalam cerita, seluruh hal tersebut justru menjadi semu. Bahasanya cukup ringan. Sayangnya, beberapa kesa-lahan cetak masih ditemukan, salah satunya yaitu tidak ada tanda kutip pada dialog antar tokoh.

Novel Phoenix dalam Mahkota Negeri Azura cocok untuk anak-anak dan pembaca yang menyukai fantasi petualangan. Dunia Phoenix yang dibuat menarik dan petualangan Phoenix dkk. dari awal hingga akhir cerita membuat novel ini cukup layak untuk dibaca.